Menunggu Waktu Berbuka Puasa, Santri Al Hilal Belajar Nagham dan Maqomat

 

Suasana sore di Pesantren Al Hilal 1 Cililin pada Senin, 4 Mei 2026 terasa berbeda. Menjelang waktu berbuka puasa sunnah Senin, para santri tidak sekadar menunggu adzan berkumandang. Mereka mengisi waktu dengan kegiatan yang penuh makna, yaitu berlatih nagham atau maqomat. Yaitu seni melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan irama yang indah dan tertata.

Latihan nagham bukan hanya tentang memperindah bacaan, tetapi juga memiliki banyak manfaat bagi para santri. Dengan mempelajari variasi nada dalam membaca Al-Qur’an, santri menjadi lebih peka terhadap tajwid dan makharijul huruf. Irama yang tepat membantu mereka membaca dengan lebih tartil, teratur, dan penuh penghayatan. Selain itu, nagham juga melatih konsentrasi, ketenangan jiwa, serta menumbuhkan kecintaan yang lebih dalam terhadap Al-Qur’an.

Lebih dari sekadar teknik, belajar maqomat juga menjadi sarana membangun kepercayaan diri. Santri yang terbiasa melantunkan ayat dengan baik akan lebih siap ketika diminta tampil di depan umum, baik dalam acara keagamaan maupun perlombaan tilawah.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Salman selaku asatidz menyampaikan pentingnya mempelajari nagham sejak usia dini. “Belajar nagham itu sebaiknya dimulai sejak kecil, jadi di Pesantren Al Hilal udah belajar.” ujarnya. Pernyataan ini menjadi motivasi tersendiri bagi para santri untuk terus berlatih dengan semangat.

Setelah waktu berbuka tiba, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa sunnah Senin bersama. Hidangan yang tersaji merupakan bentuk kepedulian dan kebaikan dari para dermawan serta sahabat Al Hilal yang senantiasa mendukung kegiatan di pesantren.

Alhamdulillah, berkat dukungan tersebut, para santri dapat menjalankan puasa sunnah Senin-Kamis dengan lebih ringan. Kebersamaan saat berbuka pun menjadi momen yang mempererat ukhuwah, menghadirkan rasa syukur, dan menambah keberkahan dalam setiap aktivitas mereka.

Kegiatan sederhana ini menjadi bukti bahwa waktu dapat diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Dari lantunan ayat suci yang indah hingga kebersamaan dalam berbuka, semua menjadi bagian dari proses pembentukan generasi Qur’ani yang tidak hanya fasih membaca, tetapi juga mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

 

Penulis:

author

Nafisah Samratul

Content Writter at Pesantren al-Hilal

Related Posts

×