Muhammad Raka Ramadhan, Santri Al Hilal yang Gigih Mengejar Cita-Cita hingga Bermimpi Kembali Menjadi Orang Tua Asuh

Bagi sebagian orang, keterbatasan mungkin menjadi alasan untuk berhenti bermimpi. Namun, bagi Muhammad Raka Ramadhan, keterbatasan justru menjadi alasan untuk terus berusaha. Pemuda asal Sumedang ini merupakan salah satu alumni Pesantren Yatim Al Hilal yang tumbuh dengan semangat, kegigihan, dan tekad untuk terus melangkah mengejar cita-cita.

Kini berusia 23 tahun, Raka telah menyelesaikan perjalanan pendidikannya sebagai santri Al Hilal. Ia mulai menempuh pendidikan di Pesantren Yatim Al Hilal sejak jenjang SMP pada 2016 hingga 2019. Setelah itu, Raka mendapatkan kesempatan melanjutkan studi di Pondok Modern Darussalam Gontor 4, Banyuwangi, selama 2019 hingga 2023 melalui beasiswa yang diberikan Al Hilal. Setelah menyelesaikan pendidikan di Gontor, Raka juga sempat mengabdikan diri selama satu tahun di Al Hilal.

Bagi Raka, menjadi santri Pesantren Al Hilal bukan sekadar mendapatkan tempat untuk belajar. Di sana, ia mendapatkan berbagai pelajaran yang tidak hanya berasal dari ruang kelas, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari.

“Alhamdulillah saya bersyukur bisa menjadi santri di Pesantren Al Hilal. Saya merasakan banyak manfaat, bisa menikmati berbagai fasilitas dan pelajaran, baik pelajaran hidup maupun pelajaran sekolah,” ungkap Raka.

Kesempatan melanjutkan pendidikan di Gontor selama empat tahun menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya. Beasiswa yang diberikan Al Hilal menjadi jalan bagi Raka untuk mendapatkan pengalaman pendidikan yang lebih luas.

“Bisa belajar di Gontor selama empat tahun dengan dibiayai beasiswa dari Al Hilal adalah suatu kebanggaan bagi saya. Di sini bukan hanya sarana belajar, tetapi tempat perjalanan hidup saya untuk menempuh cita-cita,” tuturnya.

Perjalanan Raka tentu tidak terlepas dari dukungan para donatur, dermawan, dan terutama orang tua asuh yang selama ini membersamai pendidikannya. Bahkan, seluruh adik Raka juga berada di lingkungan Pesantren Al Hilal.

Ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah memberikan kesempatan dan dukungan hingga dirinya dan adik-adiknya dapat terus menempuh pendidikan.

“Terima kasih kepada para donatur, dermawan, dan terkhusus orang tua asuh saya yang telah memberikan berbagai kesempatan dan dukungan. Semoga Allah SWT membalas kebaikannya dengan berlipat ganda dan menjadikannya amal jariah di akhirat nanti,” ungkapnya.

Kini, Raka kembali memiliki mimpi baru. Insya Allah, ia berencana bekerja di Jepang melalui visa Tokutei Ginou. Baginya, kesempatan tersebut bukan hanya tentang membangun masa depan pribadi, tetapi juga menjadi langkah untuk membanggakan orang tua dan membalas kebaikan orang-orang yang telah membantunya.

Lebih jauh lagi, Raka memiliki satu cita-cita yang mungkin tidak pernah ia bayangkan ketika pertama kali menjadi santri: suatu hari nanti menjadi orang tua asuh bagi santri Al Hilal.

“Saya ingin menjadi orang tua asuh Al Hilal karena itu merupakan salah satu cita-cita saya. Saya ingin tetap memberikan fasilitas dan sarana belajar yang lebih baik agar para santri Pesantren Al Hilal bisa mewujudkan cita-citanya,” ujarnya.

Keinginan tersebut lahir dari pengalaman yang ia rasakan sendiri. Raka tahu bagaimana rasanya tumbuh sebagai santri di pesantren. Namun, ia juga membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang untuk memiliki cita-cita dan berusaha meraihnya. Karena itu, ia ingin suatu hari nanti menjadi bagian dari orang-orang yang membantu santri lain merasakan kesempatan yang pernah ia dapatkan.

Bagi Raka, hidup bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang dapat mencapai kesuksesan untuk dirinya sendiri, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Ia pun memegang pesan Rasulullah SAW, “Khairunnas anfa’uhum linnas,” yang bermakna bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

“Karena itu saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Mungkin saya tidak bisa membalas seluruh kebaikan yang sudah diberikan kepada saya. Tapi sekali lagi, saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada para donatur, dermawan, dan terkhusus orang tua asuh yang sudah mendukung saya selama di Al Hilal,” ungkapnya.

Raka mungkin belum mampu membalas seluruh kebaikan yang pernah diterimanya. Namun, ia ingin membalasnya dengan cara yang ia bisa: terus belajar, bekerja keras, menjadi pribadi yang lebih baik, dan suatu hari nanti meneruskan kebaikan tersebut kepada orang lain.

Kisah Raka menjadi pengingat bahwa kesempatan yang diberikan kepada seorang santri dapat menjadi awal dari perjalanan hidup yang panjang. Sebuah beasiswa dapat membuka pintu pendidikan. Sebuah dukungan dapat menumbuhkan keberanian. Dan sebuah kebaikan yang diberikan hari ini mungkin suatu saat akan melahirkan kebaikan-kebaikan baru dari orang yang pernah menerimanya.

Insya Allah, langkah Raka menuju Jepang menjadi awal dari perjalanan baru. Semoga cita-citanya untuk membanggakan orang tua, menjadi pribadi yang bermanfaat, serta suatu hari kembali membantu santri-santri Al Hilal dapat terwujud.

Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dalam setiap langkah Raka, menjaga semangat dan kegigihannya, serta membalas seluruh kebaikan para donatur, dermawan, dan orang tua asuh yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Dari seorang santri yang pernah menerima kebaikan, semoga kelak lahir seorang pribadi yang mampu meneruskan kebaikan itu kepada generasi berikutnya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 

Penulis:

author

Nafisah Samratul

Content Writter at Pesantren al-Hilal

Related Posts

×